Efek Obyektif dan Subyektif Obat

Efek Obyektif dan Subyektif Obat

Efek Obyektif dan Subyektif Obat
Efek Obyektif dan Subyektif Obat

Semua obat memiliki dua macam efek. Yang pertama adalah efek obyektif dari kandungan zat aktifnya, yang kedua adalah efek subyektif dari selain zat aktif, misalnya dokter, kemasan atau bungkusnya, tingkat kepercayaan/keyakinan pasien (sugesti) dan lain-lain.

   Efek yang pertama jelas tertera di sampul obatnya, hal inilah yang dipelajari secara detail oleh para dokter. Efek yang kedua, sesuai dengan namanya, sangat subyektif tergantung persepsi atau sugesti pasien. Bila si pasien sudah sangat percaya, baik kepada dokter yang memberikannya maupun kepada kemasan obatnya yang terlihat bagus, maka efek terapinya bisa lebih baik. Demikian pula yang terjadi pada hal yang sebaliknya.

   Kedua efek ini saling mempengaruhi satu sama lain. Bisa saling membantu, atau bahkan saling meniadakan. Inilah sebabnya kenapa ada beberapa pasien yang sudah sangat fanatik dengan obat tertentu, ketika obat tersebut diganti dengan merek lain yang tampak berbeda, namun zat aktifnya sama, penyakitnya tidak sembuh. Tentu saja ini dengan asumsi penyakitnya sama. Contoh yang sering kita alami misalnya pada obat sakit kepala Mefinal, ketika obat tersebut diganti dengan Mectan, si pasien mengeluh bahwa nyeri kepalanya tidak sembuh. Padahal isi kedua obat tadi sama yaitu Asam Mefenamat. Hal yang sebaliknya pun dapat terjadi pada pasien lain.

   Oleh karena itu, sekali lagi, percayakan semua obat kepada dokter yang memberikannya dan yakinlah bahwa obat yang diberikan adalah yang terbaik dari pilihan yang ada. Tentu saja tanpa mengurangi keharusan bertanya kepada dokter tentang penyakit dan obatnya yang belum kita ketahui.

Baca Juga :