Kebijakan Baru PPDB Dikbud, Lulusan Sekolah Terpencil Bebas Pilih SMPN

Kebijakan Baru PPDB Dikbud, Lulusan Sekolah Terpencil Bebas Pilih SMPN

Kebijakan Baru PPDB Dikbud, Lulusan Sekolah Terpencil Bebas Pilih SMPN

Kebijakan Baru PPDB Dikbud, Lulusan Sekolah Terpencil Bebas Pilih SMPN

Ada kabar gembira bagi siswa lulusan SD/MI terpencil di Kota Delta. Tahun ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo menerapkan kebijakan khusus dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk jenjang SMPN. Yakni, mereka yang lulus dari SD/MI terpencil diberi kebebasan untuk memilih SMPN reguler tanpa seleksi.

Sekretaris Dikbud Sidoarjo Tirto Adi mengatakan, kebijakan afirmasi tersebut memang baru dibuat tahun ini. Alumni SD/MI di wilayah yang sulit terjangkau atau terpencil bisa masuk SMP negeri mana saja. Kecuali, sekolah satuan penyelenggara pendidikan sistem kredit semester (SPP-SKS). ’’Ini membuka peluang besar bagi para lulusan SD/MI terpencil,” katanya.

Tirto mengungkapkan, dikbud telah meminta kepada SD/MI di wilayah yang sulit terjangkau untuk mendata siswa yang lulus tahun ini. Data siswa dan SMPN yang diinginkan tersebut disetorkan ke dikbud. Lalu, diserahkan kepada SMPN bersangkutan untuk diberi kursi. ’’Jadi, SMP negeri reguler ketika mendapati siswa dari SD/MI terpencil harus menerima. Tidak boleh menolak,” ujarnya.

Pendaftaran jenjang SMP negeri tahun ini tetap dilakukan melalui empat jalur. Yakni, jalur prestasi, SPP-SKS, reguler, dan inklusi. Yang berbeda tahun ini, PPDB jalur SPP-SKS tidak menggunakan tes tulis. Baik tes mata pelajaran (TMP) maupun tes potensi akademik (TPA). Namun, pendaftaran dilakukan melalui sistem online sama dengan jalur reguler.

Tirto menjelaskan, semua PPDB online SPP-SKS dan reguler menggunakan nilai

sekolah (NS). Namun, untuk SPP-SKS, perhitungan NS berbeda dengan jalur reguler. NS jalur reguler dihitung 50 persen nilai ujian sekolah/madrasah ditambah 50 persen rata-rata nilai rapor semester 7-11.

Begitu juga NS untuk jalur SPP-SKS. Namun, untuk ujian sekolah atau ujian madrasah (US/M), ada perumusan sendiri. Yakni, (matematika x 3)+(IPA x 2)+(bahasa Indonesia x 1). Kemudian, hasilnya dibagi 6. Bobot US dengan perumusan tersebut digunakan untuk membedakan PPDB jalur SPP-SKS dan reguler.

’’Pelaksanaannya tetap sama dengan jalur reguler. Semua melalui sistem online dan serentak,” jelasnya.

Namun, khusus siswa lulusan SD/MI di wilayah terpencil bisa masuk SMPN tanpa

melalui seleksi. Mereka bebas memilih SMP negeri yang diinginkan, kecuali sekolah SPP-SKS. ’’Misalnya, SMPN 1 Jabon mendapatkan lima siswa dari sekolah terpencil, sedangkan kuotanya 360 siswa. Maka, pada penerimaan jalur reguler, yang diumumkan hanya 355 siswa. Lima siswa untuk siswa terpencil,” ujarnya.

Jaminan siswa SD/MI di wilayah terpencil untuk mendapatkan SMP negeri reguler

yang diinginkan sudah pasti. Kebijakan itu diterapkan agar seluruh siswa SD/MI di wilayah terpencil tetap bisa melanjutkan sekolah. Selain itu, mereka termotivasi untuk sekolah seperti teman-teman yang berada di wilayah padat penduduk. ’’SD negeri kan memang gratis. Jadi, jangan sampai anak-anak di wilayah terpencil ini putus sekolah,” tandasnya.

 

Sumber :

https://insightmaker.com/user/116805