Menteri PPN Apresiasi Konsep Pembangunan Agro-Maritim 4.0 dari IPB

Menteri PPN Apresiasi Konsep Pembangunan Agro-Maritim 4.0 dari IPB

Menteri PPN Apresiasi Konsep Pembangunan Agro-Maritim 4.0 dari IPB

Menteri PPN Apresiasi Konsep Pembangunan Agro-Maritim 4.0 dari IPB

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar Seminar Agro-Maritim 4.0 dengan mengusung tema “Menyongsong Visi Indonesia 2045” di IPB International Convention Center (IICC) Kampus IPB, Baranangsiang Bogor, Kamis (4/10/2018).

Ketua Panitia, Dr. Eva Anggraeni menjelaskan tema tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral IPB dalam memberikan sumbangsih pemikiran terhadap berbagai kondisi saat ini dan tantangan ke depan dalam pembangunan nasional, khususnya di bidang agro-maritim.

Hal ini dalam menyikapi bahwa tantangan disrupsi di era digital, Era Industri 4.0 menjadi hal yang strategis untuk dikembangkan menjadi kekuatan di tengah semakin meningkatnya permasalahan global berkaitan dengan isu pangan, air dan energi.

“Di sisi lain, pembangunan pertanian dalam arti luas di Indonesia masih terkendala dengan berbagai permasalahan dan belum banyak berfokus pada penguatan ciri khas dan karakteristik negara kita sebagai benua maritim terbesar,” ujar Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Kajian Strategis dan Publikasi Ilmiah tersebut.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Prof. Dr.Ir. Bambang P.S Brodjonegoro dalam Keynote Speach-nya menyampaikan tentang Agro-Maritim 4.0 untuk menyongsong visi Indonesia 2045, dimana sektor pertanian adalah pondasi dasar ekonomi bangsa.

“Dengan pembangunan pertanian yang baik akan berimbas pada perekonomian yang stabil. Pembangunan pertanian terhadap perekonomian suatu bangsa adalah berbanding lurus. Suatu bangsa dapat dikatakan menjadi bangsa yang maju apabila seluruh kebutuhan primer rakyatnya terpenuhi yaitu pangan,” jelas Prof. Bambang.

Menurut Prof. Bambang, saat ini kita berada di ambang revolusi teknologi yang secara fundamental akan mengubah cara hidup, cara bekerja, dan cara berkonektivitas satu sama lain. Inovasi di bidang pertanian harus mampu meningkatkan produksi panen dengan cara yang efisien dalam menggunakan sumberdaya dan metode produksi yang tepat.

“Smart farming dan precision farming harus kita kembangkan sebagai sebuah pendekatan pertanian maju yang efisien dan bersifat cost effective. Pendayagunaan teknologi informasi modern dan penguasaan data yang tepat dan akurat merupakan unsur penting dalam menjalankan proses produksi yang efisien dan berkelanjutan,” jelasnya.

Lebih lanjut Prof. Bambang mengatakan, maka untuk mendukung tata kelola yang baik dalam proses ekonomi Agro-Maritim 4.0, maka keberadaan data menjadi sangat strategis. Pengendalian pembangunan industri agro-maritim akan lebih mudah dilakukan.

Kekurangan dan kecukupan pangan akan dengan mudah terpantau. Demikian juga sektor industri berbasis bahan pangan juga lebih mudah terukur kemampuan daya dukungnya. Jika kawasan suatu pulau tidak memiliki kesediaan pangan yang memadai, maka kebutuhan pangan dapat dilakukan dari daerah sentra produksi yang memiliki kelebihan pangan.

Ia menekankan, digital farming merupakan peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah perlu merespon adanya perubahan ini dengan cepat. Persoalan yang mendasar adalah bagaimana adanya sistem digital farming ini dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas dan masif.

Tugas utama pemerintah dan pemangku kepentingan termasuk IPB adalah mengedukasi petani untuk beralih dari sistem tradisional ke sistem yang berbasis digital.

Menurutnya, dalam kaitan ini, peran IPB sebagai universitas pertanian tertua dan terkemuka di Indonesia cukup menonjol.

Di awal era Orde Baru, IPB mengeluarkan inovasi dengan BIMAS/INMAS dan Panca Usaha Tani yang mampu mengantarkan Indonesia mencapai swasembada pangan khususnya beras.

Merupakan tantangan bagi IPB di eradigital farming ini untuk keluar dengan konsep

pembangunan agro-maritim yang mampu meningkatkan produksi sekaligus meningkatkan pendapatan petani dengan tetap menjaga keberlanjutan dan kelestarian lingkungan. Sudah saatnya untuk mengembangkan konsep “corporate agriculture” atau pertanian berbasis industri dalam era digital farming ini.

Sebagai lembaga pendidikan di bidang agro-maritim, ia berharap IPB dapat menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak hanya mampu dari segi keilmuan tetapi juga memiliki kemampuan kreasi dan inovasi.

Saat ini Indonesia memerlukan SDM yang mau bekerja bersama masyarakat dalam menyiapkan komoditas dan bahan baku, SDM yang terbuka akan teknologi, dan SDM yang mampu mengadaptasi perkembangan teknologi informasi yang cepat dan SDM yang memiliki keahlian dalam mengadopsi pemanfaatan teknologi digital untuk kebutuhan pertanian dan kemaritiman.

“Kemampuan dan kualitas SDM akan menentukan cepat atau lambatnya

pembangunan agromaritim. Kita perlu memasukan trend perubahan teknologi masa depan ke dalam kurikulum pendidikan bidang pertanian, perikanan, kelautan untuk membuka cakrawala baru dalam produksi agro-maritim,” jelas Prof. Bambang.

Rektor IPB, Dr. Arif Satria dalam sambutannya mengatakan, istilah agromaritim sengaja diangkat untuk bisa mengintegrasikan sumberdaya alam yang kita miliki. Transformasi Agro-Maritim 4.0 menjadi penting dikarenakan diskonektivitas pembangunan sektor agro dan maritim.

“Tantangan dan peluang dari era 4.0 terebut harus direspon dengan cepat dan tepat

dengan konsep peta jalan yang jelas. Atas dasar tersebut, IPB menawarkan konsep Agro-Maritim 4.0 yang diharapkan dapat menjadi rujukan pengembangan IPB ke depan serta berkontribusi dalam kemajuan Inddonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia. Konsep tersebut juga diharapkan dapat memberikan jawaban atas solusi yang tidak menentu di era disrupsi,” kata Rektor IPB.

 

Sumber :

https://jeffmatsuda.com/