Nasib 95 Pendaftar Kelas Olahraga Tunggu Hasil Ujian Nasional

Nasib 95 Pendaftar Kelas Olahraga Tunggu Hasil Ujian Nasional

Nasib 95 Pendaftar Kelas Olahraga Tunggu Hasil Ujian Nasional

Nasib 95 Pendaftar Kelas Olahraga Tunggu Hasil Ujian Nasional

Pendaftaran dan tes keterampilan penerimaan peserta didik baru (PPDB) kelas olahraga jenjang SMP rampung. Berkas 95 pendaftar masuk ke Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik. Nasib mereka menunggu hasil ujian nasional (unas).

Sebelumnya, para pendaftar mengikuti serangkaian tes keterampilan di SMPN 3 Gresik. Mulai kemampuan melempar bola tenis dan basket, lari cepat, hingga melompat. Skor masing-masing anak telah muncul. ”Keputusan akhir berada di dispendik. Nanti skor ditambahi hasil unas,” papar Kepala SMPN 3 Gresik Sulistyorini.

Peserta yang lolos sebenarnya sudah bisa diprediksi. Maklum, bobot untuk hasil tes keterampilan paling besar. Sebanyak 70 persen lolosnya siswa jalur olahraga ditentukan skor praktik. Menurut Rini, sebagian pendaftar rata-rata sudah menguasai bidang olahraga. Ada yang juara event provinsi. Ada pula yang berprestasi tingkat kabupaten. Piagam membuktikan hal itu.

Setelah diterima, peserta jalur olahraga tetap masuk kelas reguler saat pembelajaran sehari-hari. Hanya, mereka punya tanggung jawab yang lebih. Anak-anak harus berlatih minimal sepuluh jam seminggu. Mereka wajib berolahraga sebelum dan sepulang sekolah.

Hasil seleksi jalur olahraga paling lambat diumumkan pada 12 Juni 2017. Saat itu, peserta reguler baru memulai pendaftaran online. ”Kuotanya hanya 32 siswa. Yang tidak terpilih bisa ikut jalur reguler,” tuturnya.

Dispendik Gresik masih mengebut penyusunan pagu masing-masing sekolah. Penyusunan pagu berkaitan dengan pembagian zona. Ada kawasan yang jumlah lulusan SD dan MI cukup besar, tapi daya tampung SMP tak memenuhi. ”Misalnya, zona 4 dengan wilayah Menganti, Driyorejo, dan Kedamean. Lulusannya jauh lebih banyak daripada daya tampung sekolah,” papar Kepala Seksi (Kasi) Kurikulum Sekolah Menengah Pertama Dispendik Gresik Sugeng Istanto.

Di Zona SMA/SMK, Persaingan Nilai Bebas

Di sisi lain, persiapan PPDB SMA/SMK semakin matang. Untuk melayani pendaftar, Cabang Dinas Pendidikan (Dispendik) Wilayah Gresik telah menyiapkan 16 operator. Yaitu, 12 operator SMA dan 4 operator SMK. ’’Itu sesuai jumlah lembaga. Satu sekolah satu operator,” kata Kepala Cabang Dispendik Wilayah Gresik Puji Hastuti Rabu (31/5).

Tugas operator ialah meng-input data pendaftar, memverifikasi nilai unas peserta, dan menentukan peringkat nilai unas. ”Nilai unas pendaftar bisa terbaca langsung di sistem aplikasi,” paparnya.

Kasi Pembelajaran SMA/SMK Rita Riana menambahkan, tidak ada standar nilai untuk lima zona yang telah ditentukan. Semua siswa, kata dia, bebas memilih sekolah. Baik di dalam zona maupun di luar zona. Hanya, orang tua dan siswa harus mengukur peluang lulus di sekolah pilihan. ”Sebab, jika telah memasukkan berkas pendaftaran, tidak bisa dicabut atau dibatalkan,” jelas Rita.

Dispendik membatasi dua pilihan sekolah dengan tiga opsi yang berbeda-beda. Pertama, pilihan pertama dan kedua adalah sekolah di dalam zona. Kedua, pilihan pertama adalah sekolah dalam zona serta pilihan kedua sekolah luar zona. Ketiga, siswa memilih lembaga luar zona sebagai pilihan pertama dan sekolah dalam zona sebagai pilihan kedua.

”Sebaiknya, siswa berfokus di dalam zona. Sebab, jika mendaftar ke luar zona, kemungkinan lulus sangat kecil. Kecuali jika nilai unas siswa sangat tinggi, silakan ke luar zona,” paparnya.

Sistem zonasi membawa dampak bagi calon peserta didik. Sangat kecil kemungkinan siswa lolos masuk sekolah di luar zona. Siswa cerdas sekalipun. Sebab, persaingan di luar zona pasti ketat. ”Tujuan utama sistem zonasi adalah pemerataan. Agar siswa cerdas tidak ngumpul di satu sekolah saja,” kata Sekretaris Dewan Pendidikan Gresik Nur Faqih.

Dewan Pendidikan Gresik berharap sistem zonasi tetap menguntungkan siswa.

Siswa di berbagai zona berhak mendapat kualitas pendidikan yang sama. Termasuk sekolah di kawasan pinggiran atau bukan sekolah favorit.

Selama ini, kata Nur Faqih, siswa enggan mendaftar di sekolah pinggiran karena kualitasnya kurang bagus. Minim perlengkapan sarana-prasarana. Misalnya, laboratorium, multimedia, dan sarana lainnya. Selain itu, kualitas guru di sekolah tertentu kurang memenuhi standar. ”Komponen inilah yang membuat kualitas pendidikan timpang. Tidak merata,” tambahnya.

Nah, Dispendik Jatim melalui Cabang Dispendik Wilayah Gresik harus membenahi

kekurangan tersebut. Dispendik wajib melengkapi sarana-prasarana pendidikan agar setara dengan sekolah-sekolah yang dinilai favorit. Selain itu, yang paling penting adalah pemerataan kualitas tenaga pendidik atau guru. ”Dengan begitu, rotasi guru mutlak diperlukan,” imbuhnya.

Menanggapi itu, Kasi Pembelajaran SMA/SMK Rita Riana menyatakan bahwa

wacana rotasi guru sudah menjadi perhatian. Namun, itu belum dilakukan dalam waktu dekat. Sebab, rotasi pengajar tidak bisa dilakukan serta-merta. Kebijakan tersebut harus disetujui Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Jatim Saiful Rachman.

 

Baca Juga :