SCHEDULING TERPERINCI

SCHEDULING TERPERINCI

SCHEDULING TERPERINCISCHEDULING TERPERINCI

Setelah skedul  produksi induk, yang dijabarkan dan dipadankan dengan tersedianya sumber daya (material) dan kemampuan kapasitas dalam sistem perencanaan kebutuhan bahan dan perencanaan kebutuhan kapasitas, menetapkan produk-produk (atau komponen-komponen) apa yang akan diproduksi, dalam kuantitas berapa, dan kapan produk-produk tersebut akan diperlukan, kita menyiapkan dan menyusun scheduling terperinci.

Macam-macam Scheduling

Scheduling menyangkut penetapan kapan suatu operasi atau kegiatan harus dimulai agar hari penyelesaian pembuatan produk dapat dipenuhi. Dalam hal penetapan tanggal setiap operasi, kita mengenal dua macam cara, yaitu :

Forward Scheduling.

Skedul-skedul disusun berdasarkan tanggal permulaan operasi yang diketahui dan kemudian bergerak kemuka dari operasi pertama sampai operasi terakhir untuk menentukan tanggal penyelesaian.

  1. Backward Scheduling,

Proses scheduling dimulai dengan tanggal penyelesaian yang ditentukan dan bekerja dibelakang untuk menentukan tanggal mulai operasi yang diperlukan. Proses ini menghasilkan tanggal dalam penyampaian order kepada pabrik untuk setiap komponen dan merupakan batas waktu untuk setiap order operasi.

Disamping itu, kita juga mengenal dua jenis scheduling lainnya:

  1. Order Scheduling

Scheduling Ini menentukan kapan setiap pesanan harus dikerjakan dan dilaksanakan. Skedul-skedul pesanan menunjukkan kuantitas-kuantitas produk tertentu yang akan dibuat dalam satu minggu atau satu bulan.

  1. Machine Scheduling

Scheduling ini menentukan waktu pengerjaan pada setiap mesin. Tetapi, dalam praktek, skedul-skedul penggunaan mesin-mesin yang sering menyebabkan kemancetan.

  1. DISPATCHING

Dispatching berarti pengeluaran perintah-perintah pengerjaan (work orders) secara nyata kepada para karyawan. Pemberian perintah pengerjaan merupakan realisasi produksi untuk menghasilkan suatu produk. Secara normal, dispatching menimbulkan beberapa masalah. Masalah pertama terjadi bila beban kerja pusat-pusat kerja melebihi kapasitasnya, sehingga perlu dikembangkan sistem prioritas order untuk memilih order-order pengerjaan pada proses produksi berikut. Oleh karena itu, kita penting menetapkan suatu pedoman unutk pembuatan keputusan tentang order-order mana yang seharusnya dikerjakan terjadi dahulu dan mana yang akan ditunda.

  1. FOLLOW-UP

Follow-up merupakan kegiatan pengawasan produksi untuk memonitor dan mengecek secara terus menerus proses pengerjaan order-order produksi maupun pembelian komponen-komponen dari pihak luar perusahaan, apakah berjalan sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam skedul produksi induk. Follow-up, sebagai bagian terakhir fungsi PIPC, bertujuan untuk menentukan efektivitas dan mengintegrasikan fungsi-fungsi PIPC yang mendahuluinya, serta memberikan umpan balik dan menetapkan tindakan-tindakan korektif bagi sistem. Dengan melaksanakan fungsi follow-up, kita dapat mengetahui kemajuan proses pengerjaan suatu order atau pesanan, kelebihan kapasitas yang belum digunakan dan tingkat penggunaan dan persediaan material.

Kegiatan perencanaan produksi dimulai dengan melakukan peramalan-peramalan (forecast) untuk mempengaruhi terlebih dahulu apa dan berapa  yang perlu diproduksikan pada waktu yang akan datang. Perencanaan agregat bersangkutan dengan cara kapasitas organisasi digunakan untuk memberikan tanggapan terhadap permintaan yang diperkirakan. Perencanaan agregat adalah suatu pendahuluan untuk perencanaan kebutuhan kapasitas yang lebih terperinci. Perencaan ini merupakan salah satu tanggung jawab personalia departemen PIPC yang paling integratif. Beberapa pedoman umum perencanaan agregat secara  singkat dapat terperinci sebagai berikut:

Sumber: https://gurupendidikan.org/