Suriah masih menjadi salah satu wilayah Turki Utsmani

SEJARAH SYRIA

Keadaan Geografis Syria

Secara geografis Syria atau Suriah termasuk salah satu negara di Timur Tengah atau Asia Barat Daya. Letak Syria atau Suriah berbatasan dengan Turki di sebelah Utara, Irak di sebelah timur, Yordania di sebelah Selatan dan Israel, Lebanon serta Laut Tengah di sebelah barat. Luas Suriah sekitar 185. 180 km2. Syria atau Suriah beribukota di Damaskus dan bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa arab.

Dataran pantai paling barat adalah daerah pertanian terbaik dan pemukiman penduduk terbesar di Syria atau Suriah. Syria atau Suriah memiliki dua pelabuhan utama, yakni Pelabuhan Tartus dan al-Ladhigiyah. Pelabuhan ini berada pada garis pantai di laut tengah yang panjangnya sekitar 180 KM , diapit oleh Turki dan Lebanon. Barisan pegunungan dan beberapa lembah subur yang ditempati beberapa kota besar, menjadi pembatas sebagian besar dataran pantai dan pedalaman. Selanjutnya, dataran tinggi dan gurun pasir berbatu terletak di sebelah timur pegunungan. Gurun pasir ini mencakup lebih dari setengah wilayah negara Suriah. Luas dari gurun pasir membentang sampai ke Yordania, Irak bagian barat dan Saudi Arabia bagian utara.
Selain itu, gurun pasir Suriah juga berbatasan dengan berbatasan dengan daerah subur di utara yang dialiri Sungai Efrat. Sebuah bendungan dibangun di sungai ini untuk memasok hampir 35% kebutuhan listrik Suriah.

B. Sejarah Suriah Pra-Kemerdekaan
Pada awal abad ke-20 atau tepatnya sebelum tahun 1918, Suriah masih menjadi salah satu wilayah Turki Utsmani yang saat itu sedang mengalami masa kemunduran. Di tengah situasi yang semakin terdesak oleh negara-negara Barat, posisi Suriah menjadi semakin penting bagi Utsmani. Ketika itu diupayakan agar Suriah menjadi basis ekonomi yang penting di bidang pertanian dan perindustrian.
Akan tetapi, kondisi berubah pasca kekalahan Turki Utsmani di Perang Dunia I. Banyak daerah Utsmani akhirnya menjadi daerah jajahan negara-negara Barat, termasuk Suriah.
Seperti halnya negara Timur Tengah lainnya, Suriah menyimpan cadangan minyak di gurun pasirnya. Selain itu Suriah juga merupakan daerah penting bagi Suez. Untuk itu, banyak negara-negara Barat memperebutkan Suriah pada masa menjelang keruntuhan Utsmani.
Pada 16 Mei 1916 atau menjelang kekalahan Turki Utsmani di Perang Dunia I yang sudah diprediksi. Inggris, Rusia dan Perancis mengesahkan perjanjian Sykes-Picot yang membagi wilayah-wilayah Utsmani untuk mereka. Inggris akan memperoleh wilayah di antara Laut Mediterania dan Sungai Yordan yang mencakup Yordania, Irak Selatan dan tambahan beberapa daerah kecil termasuk pelabuhan Haifa dan Arce Palestina. Perancis akan memperoleh Turki Tenggara, Irak Utara, Suriah dan Lebanon. Sementara Rusia akan memperoleh Istanbul, Selat Turki dan Armenia.
Pada 5 Oktober 1918, Perancis menyerbu Suriah dan merebut Beirut. Turki yang di tengah kehancuran, membalasnya dengan menyerang Mudros pada 30 Oktober 1918. Setelah serangan Turki, Inggris dan Perancis pada 8 November 1918 menjanjikan kemerdekaan kepada Suriah. Janji itu mengakibatkan berkobarnya nasionalisme Arab di Suriah. Faisal, putra dari Syarif Husain yang ingin berkuasa di Suriah menjadi pemimpin gerakan itu.
Faisal bersama T.E Lawrence (Lawrence of Arab) pergi ke London untuk memperjuangkan kemerdekaan Suriah di dalam sidang perdamaian Versailes tanggal 6 Februari 1919 M. Perjanjian Versailles memutuskan untuk mengirimkan panitia yang akan menyelidiki kesiapan Suriah menjadi negara merdeka. Panitia ini terdiri dari dua orang, yakni H. C king dan CH. R. Crane . Setelah diadakan penyelidikan di Suriah, King dan Crane menyarankan agar Suriah di tempatkan di bawah mandat Perancis dengan Faisal sebagai rajanya. Usulan itu ditolak oleh Perancis, akibatnya bangsa Arab di Suriah menjadi membenci Perancis dan semakin berkobar semangat nasionalisme Arab.
Situasi yang memanas, perkumpulan al-Fatat sebuah organisasi mahasiswa-mahasiswa arab di Perancis, menjelma menjadi partai kemerdekaan Arab dan memimpin gerakan nasionalisme Suriah. Mereka juga menuntut penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi di samping bahasa Turki.


Sumber: https://pss-sleman.co.id/